Berawal dari masalah sederhana, aku diharuskan pergi ke cafe untuk bertemu seorang teman disana. Tak lama setelah aku duduk, masuk wanita muda dengan tampang linglung sedang mencari alasan yang membuat dia datang ke tempat ini. Siang ini wajahnya berkeriput, seperti makhluk yang berusaha membebaskan diri dari kurungan. Dia berjalan dan kemudian duduk tepat disamping tempat yang aku duduki sekarang ini, dimana sejak kedatanganku sudah ada seorang pria muda duduk disana.
Dia menatap pria itu, wanita akan menatap wajah pria jika ada sesuatu di wajahnya atau jatuh cinta padanya. Wanita itu terlihat menghela napas panjang untuk bersiap mengatakan sesuatu yang mungkin tak ingin ia katakan.
Ia berkata “Apa lagi yang kau mau? Aku anggap masalah kita sudah selesai”
“Aku memang salah, aku akui itu” jawab pria itu
Semua percakapan mereka terdengar jelas, ini dikarenakan jarak antara mereka denganku tidaklah begitu jauh.
Wanita itu meninggikan suaranya dan berkata “Kita akhiri saja, aku lelah bertengkar dan tersakiti seperti ini”
Wanita itu terus mengucapkan kata-kata konyol yang tidak berarti apa-apa, tapi entah kenapa itu lebih baik daripada berdiam diri. Pada dasarnya wanita memang berbeda, mereka bisa melupakan pertengkaran-pertengkaran seperti itu dan merasa lega sesudahnya, karena telah meluapkan segala unek-unek mereka. Bagi mereka pertengkaran adalah semacam alat untuk menenangkan saraf.
Secepat mungkin pria itu mencoba menenangkan suasana, cinta memang bisa membuat laki-laki berubah menjadi setan atau malaikat dan itu membuat hati wanita tersebut menjadi reda.
Seorang pelayan setengah baya datang menghampiri mereka, ia tampak serius menjalankan tugasnya.
“Tolong beri kami waktu, sebentar saja” jelas pria itu kepada pelayan
Pelayan itu terlihat telah memahami situasi, ia berjalan kembali ke tempatnya semula, tak jauh dari tempatku berada. Aku hampir lupa kalau drama sudah dimulai tapi aku hanya akan berperan sebagai penonton, ditambah pelayan tua itu yang sedari tadi memandangi mereka.
“Kita bicarakan bak-baik, tenanglah, ini tempat umum” kata pria itu memelas
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Terlihat jelas wanita itu sedang berusaha menenangkan diri untuk tidak menangis didepan umum. Memang beginilah adanya, tidak ada yang lebih indah dan lebih sakit daripada sebuah hubungan.
Pria itu memegang tangan wanitanya dan berkata “Aku memang salah. Aku yakin, aku tidak salah memilih wanita, aku hanya salah dalam cara mencintaimu dan aku janji tidak akan menyakitimu lagi”
Sejenak aku mendengar sesuatu yang mustahil dalam ucapan pria itu. Ketika jatuh cinta, jangan berjanji untuk tidak saling menyakiti, namun berjanjilah untuk tetap bertahan meski salah satu tersakiti.
Tak terasa 20 menit sudah aku menunggu di cafe ini, dan teman yang aku tunggu belum juga datang. Situasi masih tetap sama, pasangan kekasih itu masih berdiam diri satu sama lain dan hujan diluar juga masih belum berhenti. Aku penasaran, apakah drama ini akan berakhir indah atau malah sebaliknya.
Wanita itu memanggil pelayan itu lagi dan memesan segelas air minum, untuk menenangkan diri sepertinya.
“Aku benar-benar menyesal, tolong percaya kepadaku” pinta pria itu
“Aku percaya, aku selalu percaya kepadamu, tapi kau yang tidak percaya kepadaku, kau tidak percaya bahwa selama ini hatiku selalu tersakiti oleh seseorang namun aku selalu bertahan, dan orang itu ada dihadapanku” jawab wanita itu, matanya tampak mengeluarkan air mata
“Aku benar-benar tulus mencintaimu, percayalah”
“Kalau kau tulus mencintaiku, seharusnya kita tidak perlu bertindak sampai sejauh ini” lanjut wanita itu
Pelayan itu datang tepat waktu, ia menaruh gelas itu dengan hati-hati dihadapan mereka. Sehabis itu, ia manaruh kopi hangat pesananku dan segera duduk dihadapanku. Pria tua itu menghela napas sambil memandangi mereka.
“Cinta orang dewasa berkata, aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu. Namun cinta yang dewasa berkata aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu. Kau setuju denganku?” tanya pelayan itu kepadaku
Aku tidak menjawabnya, aku hanya memandanginya seraya menyeduh kopi hangat yang ia hantarkan tadi.
“Diumurku yang sudah terbilang tua ini, aku masih belum bisa membedakan mana cinta yang tulus dan yang bukan” seru pelayan itu sambil memandangi mereka
“Kau hanya perlu bukti”
“Bukti?”
“Seseorang mencintaimu sama artinya dengan ia memanfaatkanmu, disaat itulah kau bisa melihat apakah ia mencintaimu dengan tulus atau tidak” jawabku padanya
Mendengar ucapanku, ia langsung menolehkan wajah keriputnya kepadaku. Sambil tersenyum ringan ia berkata “kalau begitu aku akan bekerja dulu, untuk mendapatkan bukti”
Pelayan itu segera beranjak pergi dan bertepatan dengan itu, wanita itu berdiri dari kursinya seolah baru mendapat pencerahan atas masalah yang sedang ia hadapi.
Dia berkata “Aku tidak lagi sekuat dulu, jatuh cinta padamu adalah hal yang mudah, namun untuk tetap bertahan mencintaimu perlu kerja keras. Sifatmu yang begini sejak dulu, aku cukup kuat menahan itu semua, tapi aku rasa tidak untuk sekarang. Kita akhiri saja”
Usai memutuskan hubungannya, wanita itu pergi berjalan keluar dari cafe sambil menangis, meninggalkan bekas prianya yang terlihat begitu terpukul atas kejadian itu. Pria itu telah membuat bekas wanitanya menangis dan membiarkan orang lain yang menghapusnya. Dan lebih ironis lagi saat pria itu sama sekali tidak mengejarnya.
Kebahagiaan adalah masalah keputusan dan mereka telah mengambil keputusan untuk berpisah, mencari jalan masing-masing untuk bahagia.
Pria itu masih disitu, duduk dengan tampang tidak berdaya seolah tidak percaya apa yang telah terjadi. Dia tidak akan pernah tau begitu berharganya seseorang sampai seseorang tersebut meninggalkannya seperti ini.
Sebagai penonton, aku hanya bisa diam memandangi drama yang berakhir tragis seperti ini. Jika wanita tersebut tidak menempatkan pria itu dimasa depannya, maka pria itu harus cukup pintar untuk menempatkan wanita tersebut dimasa lalunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar