Sabtu, 08 April 2017

BANGKU SEBELAH

Berawal dari masalah sederhana, aku diharuskan pergi ke cafe untuk bertemu seorang teman disana. Tak lama setelah aku duduk, masuk wanita muda dengan tampang linglung sedang mencari alasan yang membuat dia datang ke tempat ini. Siang ini wajahnya berkeriput, seperti makhluk yang berusaha membebaskan diri dari kurungan. Dia berjalan dan kemudian duduk tepat disamping tempat yang aku duduki sekarang ini, dimana sejak kedatanganku sudah ada seorang pria muda duduk disana.
Dia menatap pria itu, wanita akan menatap wajah pria jika ada sesuatu di wajahnya atau jatuh cinta padanya. Wanita itu terlihat menghela napas panjang untuk bersiap mengatakan sesuatu yang mungkin tak ingin ia katakan.
Ia berkata “Apa lagi yang kau mau? Aku anggap masalah kita sudah selesai”
“Aku memang salah, aku akui itu” jawab pria itu
Semua percakapan mereka terdengar jelas, ini dikarenakan jarak antara mereka denganku tidaklah begitu jauh.
Wanita itu meninggikan suaranya dan berkata “Kita akhiri saja, aku lelah bertengkar dan tersakiti seperti ini”
Wanita itu terus mengucapkan kata-kata konyol yang tidak berarti apa-apa, tapi entah kenapa itu lebih baik daripada berdiam diri. Pada dasarnya wanita memang berbeda, mereka bisa melupakan pertengkaran-pertengkaran seperti itu dan merasa lega sesudahnya, karena telah meluapkan segala unek-unek mereka. Bagi mereka pertengkaran adalah semacam alat untuk menenangkan saraf.
Secepat mungkin pria itu mencoba menenangkan suasana, cinta memang bisa membuat laki-laki berubah menjadi setan atau malaikat dan itu membuat hati wanita tersebut menjadi reda.
Seorang pelayan setengah baya datang menghampiri mereka, ia tampak serius menjalankan tugasnya.
“Tolong beri kami waktu, sebentar saja” jelas pria itu kepada pelayan
Pelayan itu terlihat telah memahami situasi, ia berjalan kembali ke tempatnya semula, tak jauh dari tempatku berada. Aku hampir lupa kalau drama sudah dimulai tapi aku hanya akan berperan sebagai penonton, ditambah pelayan tua itu yang sedari tadi memandangi mereka.
“Kita bicarakan bak-baik, tenanglah, ini tempat umum” kata pria itu memelas
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Terlihat jelas wanita itu sedang berusaha menenangkan diri untuk tidak menangis didepan umum. Memang beginilah adanya, tidak ada yang lebih indah dan lebih sakit daripada sebuah hubungan.
Pria itu memegang tangan wanitanya dan berkata “Aku memang salah. Aku yakin, aku tidak salah memilih wanita, aku hanya salah dalam cara mencintaimu dan aku janji tidak akan menyakitimu lagi”
Sejenak aku mendengar sesuatu yang mustahil dalam ucapan pria itu. Ketika jatuh cinta, jangan berjanji untuk tidak saling menyakiti, namun berjanjilah untuk tetap bertahan meski salah satu tersakiti.
Tak terasa 20 menit sudah aku menunggu di cafe ini, dan teman yang aku tunggu belum juga datang. Situasi masih tetap sama, pasangan kekasih itu masih berdiam diri satu sama lain dan hujan diluar juga masih belum berhenti. Aku penasaran, apakah drama ini akan berakhir indah atau malah sebaliknya.
Wanita itu memanggil pelayan itu lagi dan memesan segelas air minum, untuk menenangkan diri sepertinya.
“Aku benar-benar menyesal, tolong percaya kepadaku” pinta pria itu
“Aku percaya, aku selalu percaya kepadamu, tapi kau yang tidak percaya kepadaku, kau tidak percaya bahwa selama ini hatiku selalu tersakiti oleh seseorang namun aku selalu bertahan, dan orang itu ada dihadapanku” jawab wanita itu, matanya tampak mengeluarkan air mata
“Aku benar-benar tulus mencintaimu, percayalah”
“Kalau kau tulus mencintaiku, seharusnya kita tidak perlu bertindak sampai sejauh ini” lanjut wanita itu
Pelayan itu datang tepat waktu, ia menaruh gelas itu dengan hati-hati dihadapan mereka. Sehabis itu, ia manaruh kopi hangat pesananku dan segera duduk dihadapanku. Pria tua itu menghela napas sambil memandangi mereka.
“Cinta orang dewasa berkata, aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu. Namun cinta yang dewasa berkata aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu. Kau setuju denganku?” tanya pelayan itu kepadaku
Aku tidak menjawabnya, aku hanya memandanginya seraya menyeduh kopi hangat yang ia hantarkan tadi.
“Diumurku yang sudah terbilang tua ini, aku masih belum bisa membedakan mana cinta yang tulus dan yang bukan” seru pelayan itu sambil memandangi mereka
“Kau hanya perlu bukti”
“Bukti?”
“Seseorang mencintaimu sama artinya dengan ia memanfaatkanmu, disaat itulah kau bisa melihat apakah ia mencintaimu dengan tulus atau tidak” jawabku padanya
Mendengar ucapanku, ia langsung menolehkan wajah keriputnya kepadaku. Sambil tersenyum ringan ia berkata “kalau begitu aku akan bekerja dulu, untuk mendapatkan bukti”
Pelayan itu segera beranjak pergi dan bertepatan dengan itu, wanita itu berdiri dari kursinya seolah baru mendapat pencerahan atas masalah yang sedang ia hadapi.
Dia berkata “Aku tidak lagi sekuat dulu, jatuh cinta padamu adalah hal yang mudah, namun untuk tetap bertahan mencintaimu perlu kerja keras. Sifatmu yang begini sejak dulu, aku cukup kuat menahan itu semua, tapi aku rasa tidak untuk sekarang. Kita akhiri saja”
Usai memutuskan hubungannya, wanita itu pergi berjalan keluar dari cafe sambil menangis, meninggalkan bekas prianya yang terlihat begitu terpukul atas kejadian itu. Pria itu telah membuat bekas wanitanya menangis dan membiarkan orang lain yang menghapusnya. Dan lebih ironis lagi saat pria itu sama sekali tidak mengejarnya.
Kebahagiaan adalah masalah keputusan dan mereka telah mengambil keputusan untuk berpisah, mencari jalan masing-masing untuk bahagia.
Pria itu masih disitu, duduk dengan tampang tidak berdaya seolah tidak percaya apa yang telah terjadi. Dia tidak akan pernah tau begitu berharganya seseorang sampai seseorang tersebut meninggalkannya seperti ini.
Sebagai penonton, aku hanya bisa diam memandangi drama yang berakhir tragis seperti ini. Jika wanita tersebut tidak menempatkan pria itu dimasa depannya, maka pria itu harus cukup pintar untuk menempatkan wanita tersebut dimasa lalunya.

Jumat, 07 April 2017

CERPEN

Kamu dan Lontong Terakhir Itu


"Setidaknya tunggulah sampai aku mendapat pekerjaan, aku pasti melamarmu. bukankah kita telah menjalani ini bertahun tahun, kita juga telah menempuh pasang surutnya hubungan ini selama tujuh tahun. Dan aku mampu memahamimu, begitupun kamu, kamu bahkan memahamiku lebih dari diriku".
Ucapku sore itu dua tahun yang lalu kepada seorang perempuan ketika berada di tepi sungai di lembah ngarai sianok.
"Selama hari berganti menemukan desember untuk kesekian kalinya, bahkan aku selalu setia melingkari tanggal-tanggal dikalender kamarku untuk sekedar tahu samapai kapan penantian ini akan berakhir. Jika benar kamu serius dengan apa yang kau katakan, ikutlah aku ke jakarta. kamu cari pekerjaan disana, atau rasa cintamu itu sudah hilang padaku awan?"
ujar wanita yang biasa kupanggil ed itu sambil menatap dalam bola mataku.

hari-hari berlalu setelah kami berbincang serius di kota bukit tinggi itu, sudah hampir sebulan aku dijakarta berusaha mencar pekerjaan, tetapi masih belum ada hasil, padahal aku menilai usahaku sudah maksimal, harus lebih sabar dan tetap semangat pikirku. 
Akhir-akhir ini semakin kurasa sikap ed berubah terhadapku, begitu sulit dihubungi, ditemui dan tak ada kabar sama sekali seperti ingin menghindar dari ku persis seperti yang sering ia lakukan dahulu. fikiranku mulai menerawang entah kemana dan tak jarang aku berandai-andai. apakah ia menghindariku karena aku belum mendapat pekerjaan atau dia sudah menemukan lelaki lain, atau orang tuanya mulai tak setuju denganku. mungkin aku yang sarjana pengangguran ini tidak pantas dengannya yang seorang lulusan magister. hayalan liar itu menjelajah rongga-rongga otakku tanpa kontrol. 
rasa penasaran itu juga yang membuatku mencari tahu dengan menyamar menjadi lelaki bernama anom di akun facebook, ide gila itu kudapat dari teman dekat ed, aku meng add akun facebook ed dan kami berteman, sering chatingan hingga larut malam, komunikasi kami cair dan saling bertukar nomor hp, aku sengaja membeli sim card baru untuk kugunakan sebagai nomor hp anom, tetpi aku hanya berani berbalas sms, pernah juga ide gila muncul mengajaknya bertemu di suatu tempat supaya bisa saling mengenal, tetapi aku membatalkan setelah dia menunggu ditempat yg telah dijanjikan, kalau aku datang penyamaranku akan terbongkar, dari sikap ed yg open dengan lelaki lain yang bahkan belum dikenalinya didunia nyata memang membuatku kecewa. tapi aku tidak bisa menyalahkannya karena siapapun wanita ingin lelaki yang telah jelas karirnya.
Sepandai-pandai menyimpan bangkai baunya akan tercium juga, pepatah lama itu benar adanya. dan pada akhirnya penyamaranku terbongkar juga.
tepat suatu pagi ed datang mengetuk kamar kosku, memang tempat tinggal ku dan tempat tinggalnya sangat dekat, hanya berjarak lima buah rumah.
"awan...awan..."
Suara yang sanagat ku kenali memanggilku dari balik pintu itu. akupun keluar kamar dan menghampirinya, kulihat seorang wanita sedang duduk dikursi depan kamar kosku.
"ini aku bawakan lontong gulai untuk sarapan"
ucapnya dengan senyum padaku. dengan wajah yang kusut aku duduk disampingnya, banyak hal dalam benakku yg ingin kutanyakan padanya tentang perubahan sikapnya akhir-akhir ini. kutatap wajah oval itu, dia tak sekedar pernah mengisi kekosongan pada jemari ini, dia yang telah membantuku memaksakan diri menyelesaikan tugas akhir kuliah, dia juga perempuanku yang telah berdiri tegap disampingku ketika mungkin semua orang bahkan tak ingin mendengar namaku, dia yang selalu bawel mengingatkanku meminum obat ketika aku hampir kehilangan nyawa karena kecelakaan, dia juga menjadi teman yang tak pernah menutup mukanya ketika berjalan disampingku dalam keramaian. cara bergaulnya menancapkan keindahannya semakin kuat dalam anganku.
"ada jadwal interviu hari ini?"
tanya ed sambil menuangkan lontong yang dibawanya ke dalam piring.
"tidak"
jawabku singkat dengan mata masih memandangnya.
"hilang kemana selama ini, tidak ada kabar, dihubungi gak ada respon?'
aku balik bertanya.
"sibuk"
jawabnya sesimpul senyum
"sesibuk itukah hingga tak bisa membalas satu sms, atau mengangkat sekali telepon ku, bahkan ketika aku tersesat dikota jahannam yang tidak kukenali ini"
ujarku dengan kesal.
"awan... mungkin kamu tidak cocok dijakarta, sudah sebulan lebih belum juga dapat pekerjaan, jangan paksakan dirimu disini, dan jika kamu dapat kerjapun belum tentu kita berjodoh,,, jadi pulanglah..."
Aku tak mengerti maksud dari kata-kata perempuan itu dan diapun tidak menjelaskan arti dari ucapannya. dulu dia yang kukuh memintaku kejakarta mencari kerja tapi sekarang dia yang menggoyahkan semangatku, seperti ada sesuatu yang dirahasiakan, apalagi dengan perubahan sikapnya itu.
"jika memang aku ingin pulang, lebih baik aku pulang dua minggu lalu ketika pamanku meninggal dunia, tapi aku tetap disini dengan tekadku, ini tidaklah semudah itu untukku dan tolong jangan buat aku menyerah kali ini" 
ucapku lirih
"terserah padamu... disini atau di sana, dapat kerja atau tidak kita belum tentu berjodoh"
ujar wanita itu lagi seperti sebuah penolakan akan keberadaanku di kota ini.
"sering terpikir olehku apakah hubungan kita ini hanyalah hubungan antara sebuah rasa kasihan dan sebuah rasa balas jasa? atau karena kamu seorang magister tak merasa pantas denganku? atau juga kau telah temukan lelaki yang cocok untukmu?"
tanyaku dengan nada agak tinggi. aku memalingkan pandanganku setelah mengucapkannya, akhirnya aku mengungkapkan apa yang ada dalam dadaku, pertanyaan itu telah mengendap sekian lama dalam nuraniku.
sungguh aku tak bermaksut menghinanya dengan pertanyaan seperti itu, yang pasti ada penyelesaian dari sebuah permulaan.
perempuan tangguh itu akhirnya menepis keheningan kami, dan kali ini dia tak menggunakan sinar tajam matanya, bahkan ia seperti berbincang dalam kekosongannya seolah menatap mataku, tetapi aku sadar betul, ia tak sedang menangkap pantulan bola mataku.
"aku tak pernah terpaksa, aku sungguh mencintaimu awan... bahkan dalam doaku, tapi sekarang ada yang mengganjal dalam hatiku yang tak bisa kujelaskan padamu. dan jikalau terlintas pertanyaan tersebut dibenakmu, maka bisa jadi penantian kita selama ini adalah suatu kesalahan. aku paham... kau merasa aku memadamkan harapmu pada yang lain dan menahanmu disisiku hanya untuk mengumpulkan kekuatan hingga waktunya untuk melepaskanmu."
aku merasakan amarahnya dan membiarkan kekuatannya meleleh didepanku. aku tak pernah beruntung menyaksikan air matanya. namun pagi itu ia mengalah pada ketegarannya.
"apakah ia selama ini aku hanya menahanmu disisiku karena aku mengasihanimu? atau karena aku mengasihani diriku sendiri?"
ujarnya lagi sambil terisak. bulir bening yang tadinya berkaca-kaca dimatanya kini berderai, semakin cepat dan semakin banyak.
"aku tak mampu mengobati sakitmu pagi ini kecuali dengan kata "MAAF", aku hanya memperjuangkan pondasi hubungan yang telah kita bangun, kamu tahu aku dari dulu tidak suka dengan sikapmu yang selalu menghilang tanpa sebab, menghindar saat kita ada masalah, dan masih banyak yang tidak aku sukai darimu, namun lihatlah aku bertahan hingga hari ini denganmu. tak ada orang lain, tak ada wanita lain"
ujarku sambil berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka karena mataku mulai berkaca-kaca.
Ketika aku dikamar mandi kudengar bunyi HP ku yang kuletakkan di meja dekat ed. dan ketika kulihat yang miscall itu adalah ed, panggilan tak terjawab pada sim dua yang nomornya ku pakai sebagai penyamaranku menjadi anom difacebook untuk SMS-an dengannya, selama ini dia tak pernah tahu kalau anom yang selalu menemaninya di chat fb itu adalah aku.
aaaahhh.... sial... bodohnya aku, umpatku dalam hati.
"jadi anom itu kamu wan? OK... kita selesai"
ucap ed dengan penuh kecewa. 
aku tak tahu harus menjawab dan berbuat apa, dan pagi ini aku paham bagaimana rasanya menjadi lelaki paling buruk. kekuatanku tiba-tiba jadi pengecut.
dan permpuan itu tetap tangguh di akhir cerita, dia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkanku. dengan membekap mulutnya sendiri menahan kekesalannya.
aku hanya diam terpaku melihatnya meninggalkan ku dengan SEPIRING LONTONG GULAI ITU, aku hanya pasrah pada waktu dan tak mampu menahan atau mengejarnya.
aku memberanikan diri merasakan masa lalu, dia satu-satunya pilihan yang aku harapkan dipilihkan takdir untuk masa depanku. aku mendoakan dalam waktu yang bergulir hingga menggulingkan tahun demi tahun. bahkan, aku menyesal terlalu lambat, terlalu panjang waktu yang aku habiskan untuk menatap matanya hingga aku mengenal mata itu dengan sangat pekat. Juga terlalu dalam warna suaranya menghiasi pendengaranku, hingga aku dapat membedakannya bahkan jika itu ditengah suara hujan,  seperti itulah keberadaannya yang aku jaga dalam satu rasa harap yang dalam ratusan fajar tak kian berganti nama, tetap dia. seorang perempuan yang sangat ingin aku dekap dalam penjagaanku.
sambil menyendok lontong yang terasa hambar sehambar hatiku pagi ini aku bergumam, mungkin ini lontong terakhir darinya.
kemudian tahun berganti dengan berbeda, aku tak pernah tahu kabar perempuanku itu, beberapa kali ku hubungi nomor telponnya tetapi tak pernah sekalipun di angkat.
dan aku? melangkah sejauh yang aku mampu.


(April 08-2017)