Sabtu, 22 Juli 2017

SEJARAH LAHIRNYA WAHABI & BERDIRINYA KERAJAAN SAUDI ARABIA


1701: Muhammad Bin Abdul Wahab dilahirkan di Uyainah, Nejd.


1713-an keatas: Pergi ke Basrah untuk menuntut ilmu, disana Muh. Bin Abdul Wahab bertemu Mr. HEMPHER mata-mata Inggris yang mengaku sebagai Muslim dari Turki yang punya misi mencari kelemahan untuk menghancurkan Khilafah Turki Ottoman dari dalam.


Hempher menggunakan Muh. Bin Abdul Wahab sebagai boneka penyebaran mazhab baru yang “bebas” dengan dalih kebebasan IJTIHAD “mengkaji langsung dari Qur’an dan Hadits” walaupun menyelisihi pemahaman para sahabat, para Imam Mazhab yang 4 dan para Ulama Muktabar.

Hempher menjanjikan dukungan dana dan senjata dari Inggris bagi Imam Mujtahid yang baru muncul ini.

Tujuan utama Hempher adalah agar Muh. Bin Abdul Wahab mencetuskan revolusi pemberontakan melepaskan diri terhadap Khilafah Islam Turki Ottoman.


Dengan agenda tersembunyi akan melakukan pemberontakan, dibangunlah doktrin-doktrin baru untuk melegislasi tindakan kekerasan dan pembunuhan terhadap pejabat pemerintah Turki Ottoman dan semua orang yang tidak mendukung revolusi wahabi, yaitu:


Membuat ajaran baru yang mudah meng-KAFIR-kan kaum Muslimin, sebagai alasan untuk menghalalkan darahnya apabila tidak mau bergabung dengan gerakan Wahabi.


Di Basrah itulah dimulai ajaran-ajaran TAKFIR-nya disebar luaskan. Tentu saja PERKARA BARU-nya itu ditentang oleh Ulama-ulama setempat.


1726: Dakwah di Huraymilah dan menyebarkan Perkara Baru ajaran takfir-nya, diusir oleh masyarakat setempat.


1728: Dakwah di Uyainah, mendapat dukungan dari Amir Utsman penguasa Uyainah, mulai melakukan perusakan dan pembongkaran kubah makam orang-orang soleh. Tindakan dan ajarannya yang ekstrim mendapat kecaman dari penguasa wilayah yang lain. Belakangan akhirnya Amir Utsman menarik dukungannya dan mengusirnya.
Hempher yang selalu mem-back up dari belakang layar, akhirnya mengatur pertemuan dengan Muhammad Bin Su’ud penguasa Di’riyah.


1744: Bergabung dengan Muhammad Bin Saud penguasa Di’riyah, semakin gencar menyebarkan doktrin-doktrin WAHABI, dan mempraktekkan tindakan-tindakan kekerasan dalam menerapkan dan memaksakan ajaran Wahabi.


1765: Muhammad Bin Saud peguasa Di’riyah meninggal dunia, digantikan oleh Abdul Azis bin Muhammad Al Saud.


1792: Dengan dukungan senjata dan dana dari Inggris yang difasilitasi oleh Hempher, Revolusi Wahabi dibawah pimpinan Abdul Azis Bin Su’ud berhasil menguasai : Riyadh, Kharj dan Qasim di wilayah Arabia Tengah.


1793: Muhammad Bin Abdul Wahab wafat.


Mereka melanjutkan ekspansi ke timur ke Hasa, dan menghancurkan kekuasaan Banu Khalid di wilayah itu. Para pengikut Syi`ah di kawasan ini, yang jumlahnya cukup banyak, dipaksa untuk menyerah dan mengikuti Wahhabisme atau dibunuh.


1797: Menyerbu Teluk Persia, Oman, Qatar, Bahrain.


1802: Menyerbu Thaif, dilanjutkan menyerbu Karbala Iraq, membunuh 2.000-an pengikut Syi`ah yang sedang bersembahyang sambil merayakan Muharram. Dengan kemarahan yang tak terkontrol, mereka menghancurkan makam-makam Imam ‘Ali bin Abu Thalib, Husain, Imam-imam Syi`ah dan khususnya kepada makam puteri Nabi, Fatimah.


1803: Menyerbu Mekkah.


1804: Menyerbu Madinnah.


Mereka membunuh Syekh dan orang awam yang tidak bersedia masuk Wahabi. Perhiasan dan perabotan yang mahal dan indah – yang disumbangkan oleh banyak raja dan pangeran dari seluruh dunia Islam untuk memperindah banyak makam Wali di seputar Mekkah dan Madinnah, makam Nabi Muhammad saw. dan Masjidil Haram – dicuri dan dibagi-bagikan. Pada saat Mekkah jatuh ke tangan Wahabi. Dunia Islam guncang, lebih-lebih karena mendengar kabar bahwa makam Nabi saw. telah dinodai dan dijarah, rute jamaah haji ditutup dan segala bentuk peribadatan yang tidak sejalan dengan praktik Wahabi dilarang.


1806: Abdul Azis Bin Su’ud meninggal dunia digantikan Abdullah bin Sa’ud.


1811: Turki Ottoman mulai mengirimkan pasukan untuk memadamkan revolusi pemberontakan kaum Wahabi.


1812: Pasukan Turki Ottoman dari Mesir berhasil menguasai Madinnah.


1815: Kembali pasukan Turki Ottoman dari Mesir menyerbu : Riyadh, Mekkah dan Jeddah.


1818: Di’riyah, ibukota pusat gerakan Revolusi pemberontakan Wahabi berhasil dikuasai pasukan Khilafah Islam Turki Ottoman. Pemimpin Wahabi saat itu Abdullah bin Sa’ud tertangkap, dibawa ke Istambul dan dihukum gantung disana sebagai pimpinan pemberontakan.


1821: Tentara Khilafah Islam Turki Ottoman ditarik dari Arabia.


1824: Turki Bin Abdullah, yang bapaknya dihukum gantung di Turki mengambil alih kepemimpinan kaum Wahabi menduduki Riyadh.


1830: Meluaskan penaklukan ke daerah `Aridh, Kharj, Hotah, Mahmal, Sudayr Aflaj dan Hasa.


1834: Turki bin Abdullah dibunuh oleh konspirasi internal keluarga Saud yang dipimpin oleh saudara sepupunya sendiri, yang diangkat sebagai walikota Manfuhah yang bernama Mishari. Setelah mengalami konflik antar sesama klan Saud, Faisal bin Turki berhasil naik menjadi Penguasa baru kaum Wahabi.


1837: Faisal bin Turki Al Saud, karena menolak membayar upeti ke Mesir, diringkus oleh Otoritas Turki Ottoman dan dibawa ke Mesir.


1863: Faisal bin Turki Al Saud berhasil melarikan diri dari Mesir, kembali berkuasa di Riyadh tapi tetap mengakui kekuasaan Khilafah Islam Turki Ottoman dan rutin membayar upeti ke Mesir.


1865: Faisal bin Turki Al Saud meninggal, anak-anaknya dari isteri yang berbeda-beda terlibat perebutan kekuasaan.


1871: Sa’ud bin Faisal keluar sebagai pemenang dan berkuasa memimpin teritorial kaum Wahabi.


1875: Sa’ud bin Faisal meninggal, kembali terjadi perebutan kekuasaan.


1887: Abdullah Al Saud meminta bantuan kepada Muhammad bin Rasyid penguasa Ha’il. Laskar Klan Rasyid setelah membantu Abdullah dan berhasil menyingkirkan pesaing-pesaingnya akhirnya justru menangkap Abdullah dan menguasai Riyadh dengan mengatasnamakan sebagai wali dari Turki Ottoman.


1889: Abdurrahman Al Saud, salah satu walikota dibawah kendali Al Rasyid memberontak tetapi berhasil ditumpas oleh Muhammad Bin Rasyid, Abdurrahman melarikan diri keluar dari Riyadh.


1893: Abdurrahman Al Saud menetap di Kuwait dibawah perlindungan kekuasaan Klan Al Sabah dibawah protektorat Inggris berdasarkan traktat tahun 1899.


1902: Abdul Azis bin Abdurrahman Al Saud yang merengek minta bantuan Inggris berusaha merebut kekuasaan di Riyadh dari Klan Rasyid yang didukung Khilafah Turki Ottoman. Mulanya Inggris meragukan kemampuan Abdul Azis, tapi Abdul Azis meyakinkan Inggris bahwa metodenya adalah murni gerakan politik-militer yang akan “membunuh semuanya” yang menentangnya, tidak peduli meskipun Muslim.


1906: Abdul Azis bin Abdurrahman Al Saud yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Saud dengan dukungan penuh dari Inggris berhasil menguasai QASIM, yang mendekati pusat pemerintahan Klan Rasyid di Nejd.


1913: Hasa yang banyak penganut SYI’AH dikuasai. Ibn Sa`ud mengadakan perjanjian dengan ulama Syi’ah yang menetapkan bahwa Ibn Sa`ud akan memberikan mereka kebebasan menjalankan keyakinan mereka dengan syarat mereka patuh kepada Ibn Sa`ud. Pada saat yang sama, Syi’ah tetap dianggap sebagai kalangan Rafidah yang KAFIR.


1915: Ditengah berkecamuknya perang dunia ke-I, Pada tanggal 26 Desember 1915, Ibn Sa`ud menyepakati traktat dengan Inggris. Berdasarkan traktat ini, pemerintah Inggris mengakui kekuasaan Ibn Sa`ud atas Nejd, Hasa, Qatif, Jubail, dan wilayah-wilayah yang tergabung di dalam keempat wilayah utama ini. Apabila wilayah-wilayah ini diserang, Inggris akan membantu Ibn Sa`ud. Traktat ini juga mendatangkan keuntungan material bagi Ibn Sa`ud. Ia mendapatkan 1000 senapan dan uang £20.000 begitu traktat ditandatangani. Selain itu, Ibn Sa`ud menerima subsidi bulanan £5.000 dan bantuan senjata yang akan dikirim secara teratur sampai tahun 1924.


Dokumen diatas menjelaskan: Sebagai imbalan bantuan dan pengakuan Inggris akan kekuasaannya, Ibn Sa`ud menyatakan tidak akan mengadakan perundingan dan membuat traktat dengan negara asing lainnya. Ibn Sa`ud juga tidak akan menyerang atau campur tangan di Kuwait, Bahrain, Qatar dan Oman – yang berada di bawah proteksi Inggris. Ibn Saud juga berjanji membiarkan berdirinya negara Yahudi di Palestina yang dibidani Inggris. Traktat ini mengawali keterlibatan langsung Inggris di dalam politik Ibn Sa`ud.


1916: Perjanjian penentuan batas wilayah. Komisioner tinggi Inggris Sir Percy Cox dengan mengambil kertas dan pena menentukan batas-batas wilayah kerajaan-kerajaan di Timur-Tengah sebagai kerajaan-kerajaan nasional yang berdaulat lepas dari Khilafah Turki Ottoman.


Sementara itu, saingan Ibn Sa`ud di Nejd, Ibn Rasyid, tetap bersekutu dengan Khilafah Usmaniah. Ketika Kesultanan Utsmani kalah dalam Perang Dunia I bersama-sama dengan Jerman, klan Rasyidi kehilangan sekutu utama. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, Rasyidi dilanda persaingan internal di bidang suksesi. Perang antara Ibn Sa`ud dan Ibn Rasyid sendiri tetap berlangsung selama PD I dan sesudahnya.


1917: Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour menerbitkan deklarasi Balfour kepada Lord Rothschild seorang aristokrat dan miliuner Yahudi tanggal 2 November 1917 yang menjanjikan berdirinya negara Yahudi di Palestina.
Pada tanggal 11 Desember 1917, Inggris dibawah pimpinan Jenderal Edward Allenby menduduki Palestina.


1921: Setelah berbulan-bulan dikepung, pada tanggal 4 November 1921, Ha’il, ibukota Klan Rasyidi, jatuh ke tangan Ibn Sa`ud yang dibantu Inggris melalui dana dan persenjataan. Penduduk oase subur di utara itu pun mengucapkan bai’at ketundukan kepada Ibn Sa`ud.


1922: Asir, wilayah di Hijaz selatan dikuasai Ibn Saud.


1924: Mekkah dan Madinnah dikuasai.


1925: Jeddah dikuasai, di tahun ini Ibnu Saud memproklamirkan diri sebagai RAJA HIJAZ.


1926: Ibnu Saud memproklamirkan diri sebagai RAJA HIJAZ dan SULTAN NEJD. Agen intelejen Inggris yang bernama Harry St. John Pilby tinggal di Jeddah sebagai penasehat dan penghubung dengan pemerintah Inggris. Pada tahun 1930 Philby resmi masuk menjadi anggota dewan penasihat pribadi Raja.


1927: Perjanjian umum Inggris-Arab Saudi yang ditandatangani di Jeddah (20 Mei 1927). Perjanjian itu, yang dirundingkan oleh Clayton, mempertegas pengakuan Inggris atas ‘kemerdekaan lengkap dan mutlak’ Ibnu Sa‘ud, hubungan non-agresi dan bersahabat, pengakuan Ibnu Sa‘ud atas kedudukan Inggris di Bahrain dan di ke-Emir-an Teluk, serta kerjasama dalam menghentikan perdagangan budak. Dengan perlindungan Inggris ini, Abdul Aziz (yang dikenal dengan Ibnu Sa‘ud) merasa aman dari berbagai rongrongan.


1928: Suku Duwaish yang tidak senang terhadap sikap politik Ibnu Saud yang terlalu pro Barat dan menyetujui berdirinya Israel di Palestina melakukan pemberontakan. Dengan bantuan angkatan udara Inggris dilakukan pengeboman dan penumpasan pemberontakan suku Duwaish.


1932: Ibnu Saud memproklamrikan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia (Al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Su‘udiyah) dengan wilayah kekuasaan yang sampai sekarang ini dikenal sebagai Kerajaan SAUDI ARABIA (KINGDOM OF SAUDI ARABIA).


1933: Ditemukan minyak di Wilayah Arab Saudi, Standart Oil Company dari California memperoleh konsesi selama 60 tahun. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian Oil Company pada tahun 1934. Pada mulanya, pemerintah AS tidak begitu peduli dengan Saudi. Namun, setelah melihat potensi besar minyak negara tersebut, AS dengan agresif berusaha merangkul Saudi.


1941: Untuk kepentingan minyak, secara khusus wakil perusahaan Aramco, James A. Moffet, menjumpai Presiden Roosevelt (April 1941) untuk mendorong pemerintah AS memberikan pinjaman utang kepada Saudi. Utang inilah yang kemudian semakin menjerat negara tersebut menjadi ‘budak’ AS. Pada tahun 1946, Bank Ekspor-Impor AS memberikan pinjaman kepada Saudi sebesar $10 juta dollar. Tidak hanya itu, AS juga terlibat langsung dalam ‘membangun’ Saudi menjadi negara modern, antara lain dengan memberikan pinjaman sebesar $100 juta dollar untuk pembangunan jalan kereta api yang menghubungkan ibukota dengan pantai timur dan barat. Tentu saja, utang ini kemudian semakin menjerat Saudi.


1943: Konsesi ijin bagi AS menempatkan pangkalan militer di Arab Saudi yang terus diperpanjang sampai sekarang.


1948: Deklarasi berdirinya Israel pada tanggal 14 Mei 1948 yang dibacakan oleh Perdana Menteri David Ben Gurion di Tel Aviv.


Proklamasi Israel itu ditentang oleh 5 negara Arab: Arab Saudi, Suriah, Mesir, Trans-Yordania, Libanon dan Iraq yang mengakitbatkan pecahnya perang Arab-Israel pertama sepanjang tahun 1948-1949. Namun perang ini adalah setengah hati, karena Negara-negara Arab sendiri sudah terikat traktat dengan Inggris melalui Perjanjian Penentuan Batas Wilayah yang ditentukan oleh Komisioner Tinggi Inggris Sir Percy Cox pada tahun 1916.
Disamping itu juga telah adanya janji para penguasa negara Arab bentukan Inggris untuk membiarkan berdirinya Israel di Palestina sebagai imbalan atas jasa Inggris yang telah membantu berkuasanya para Raja boneka Inggris di masing-masing negara Arab.


1953: Raja Abdul Azis bin Abdurrahman Al Saud (Ibn Saud) meninggal digantikan oleh Raja Saud bin Abdul Azis.


1956: Perang Arab-Israel kedua, tentara Israel yang dibantu pasukan Inggris dan Perancis menyerbu Mesir dan menduduki Sinai. Perang ini dipicu karena Nasionalisasi Terusan SUEZ oleh pemerintahan Gamal Abdul Nasser, dimana saham terbesar terusan SUEZ dimiliki oleh Inggris dan Perancis.


1964: Raja Saud meninggal digantikan oleh Faisal Bin Abdul Azis.


1967: Perang “enam hari” Arab-Israel ketiga, Israel menyerang Mesir, Suriah dan Yordania, menyusul penarikan mundur pasukan PBB dari Sinai dan setelah Mesir menutup Teluk Aqoba. Dalam perang tersebut, Israel berhasil merebut Gurun Sinai, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Jalur Gaza dan dataran tinggi Golan. Dengan jatuhnya wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza ke tangan Israel, berarti seluruh wilayah yang disediakan bagi negara Arab Palestina sesuai dengan rencana PBB, sekarang sudah di kuasai oleh Israel seluruhnya.


1973: Perang “Yomkhipur” Mesir merebut Sinai dan Syria merebut Dataran Tinggi Golan namun Israel dapat memukul balik. Negara-negara Arab melakukan embargo minyak untuk menekan Israel dan Negara-negara Barat yang mendukungnya.


1975: Raja Faisal meninggal digantikan oleh Khalid bin Abdul Azis.


1978: Perjanjian Camp David, Israel mengembalikan Sinai kepada Mesir. Timbul polemik dan pro-kontra diantara Negara-negara Arab terkait nasib bangsa Palestina yang tidak menentu.


1982: Raja Khalid meninggal digantikan oleh Raja Fahd bin Abdul Azis.
Israel menyerang Libanon untuk mengamankan perbatasannya dengan Syria.


1987: Gerakan Intifada dimulai, perlawanan bersenjata rakyat Palestina dibawah komando HAMAS salah satu faksi dari PLO.


1991: Perang Teluk I, Amerika menyerang Iraq yang menganeksasi Kuwait. Pasukan Amerika didatangkan ke Pangkalan militer AS di Dahran, Arab Saudi.


Keluarga Saud mulai menanamkan investasi yang besar di AS, khususnya pada perusahaan-perusahaan keluarga BUSH.


Dana sebesar 1,4 Milliar Dollar AS per tahun diberikan kerajaan Arab Saudi untuk menyokong kepemimpinan George W. Bush. Investasi sebesar 860 Milyar Dollar ditanam pemerintahan Arab Saudi di Amerika dan sebesar 300 Trilyun Dollar AS (senilai dengan 2.805.000.000.000.000.000 rupiah) uang Arab Saudi disimpan di Bank AS.


1996: DR. Aidh Abdullah Al Qorni (penulis LA TAHZAN) dipenjara karena tulisannya yang mengkritik pemerintah.


2001: Peristiwa 9/11 pengeboman WTC (menjadikan stigma negatif bahwa Islam = Teroris).


2003: Perang Teluk kedua, AS menyerbu dan menduduki Iraq.


2005: Raja Fahd meninggal, digantikan oleh Abdullah bin Abdul Azis.


Putra Mahkota Pangeran Sultan Bin Abdul Azis telah berumur 86 tahun dalam kondisi sakit-sakitan. Bila Pangeran Sultan meninggal dunia lebih dahulu dari Raja, yang dipersiapkan sebagai pengganti putera mahkota adalah menantu Raja Abdullah yaitu: Pangeran Faisal Bin Abdullah.


Raja Abdullah mengganti beberapa pejabat teras pemerintahannya yang berideologi Wahhabi dengan orang-orang yang dianggap lebih toleran secara religi, berpikiran reformis dan dengan ikatan kerja yang dekat dengan raja.


Penunjukkan Pangeran Faisal bin Abdullah sebagai Menteri Pendidikan Arab Saudi memang tepat. Karena kementerian ini sebelumnya membuat kurikulum yang memberi doktrin pada pelajar tentang ideologi kebencian dan kekerasan terhadap agama lain (Wahhabi). Mereka mengajarkan sebagai bagian dari perintah agama penanaman kebencian terhadap selainnya bahkan kepada Ahlu Sunnah dan Syi’ah. Seperti yang ditunjukkan Laporan Juli 2008, budaya kebencian terhadap non-Wahhabi masih tetap ada dalam buku-buku bacaan kajian Islam terbitan pemerintah Arab Saudi. Buku-buku bacaan ini diwajibkan di seluruh sekolah umum Arab Saudi dan mendominasi kurikulum Saudi dalam kelas-kelas yang lebih tinggi. Kementerian memuat isi teks ini secara penuh dalam situsnya dan penguasa Wahhabi mengirimnya gratis ke masjid-masjid dan sekolah-sekolah dan perpustakaan muslim di seluruh dunia. Pangeran Faisal bin Abdullah yang dikenal pemikir dan moderat juga dikenal cakap dalam memeriksa kurikulum. Dan dikemudian hari kita akan menyaksikan di Arab Saudi yang lebih moderat (baca: sekuler).


Raja Abdullah juga menggantikan Kepala Dewan Mahkamah Agung, Sheikh Saleh al-Luhaidan, yang selama ini dituding menghalangi upaya reformasi dengan Saleh bin Humaid. Sheikh Luhaidan telah menduduki pos ini selama lebih dari 40 tahun. Selama ini Luhaidan amat terkenal karena beberapa kebijakan ”tegas” yang berpijak pada ajaran konservatif. Salah satu pernyataan tegas pernah diutarakan Luhaidan, September lalu, untuk menanggapi program-program di stasiun TV satelit. Menurut Luhaidan, pemilik stasiun TV satelit yang menayangkan program ”tidak bermoral” harus dibunuh.


Ia juga mengganti kepala polisi agama Muttawa, Sheikh Ibrahim Al-Ghaith, yang telah memimpin kampanye agresif di media massa bagi pelaksanaan keras adat-istiadat Islam dan menantang tokoh lain yang lebih liberal dalam pemerintah. Sheikh Ibrahim Al-Ghaith diganti dengan Abdul Aziz bin Huamin yang lebih moderat.

Perubahan lain yang dilakukan oleh Raja Abdullah dengan menambah jumlah anggota Dewan Ulama dari 120 menjadi 150 anggota. Untuk pertama kalinya, Raja Abdullah menunjuk utusan dari empat sekolah hukum agama Islam Sunni di dalam Dewan Ulama. Sebelumnya hanya tokoh atau perwakilan dari sekolah-sekolah Hambali yang mendominasi di Dewan Ulama. Akibatnya, yang mendominasi di dewan itu hanya ajaran Wahhabi, versi Arab Saudi konservatif.


Raja Abdullah juga memerintahkan tiga tokoh Syi’ah Arab Saudi; Muhammad Al-Khanizi, Jamil Al-Khairi dan Said Al-Sheikh menjadi anggota di Dewan Ulama. Perintah ini dianalisa sebagai kemungkinan dikeluarkannya perintah Raja Abdullah kepada beberapa ulama Syi’ah untuk menjadi anggota Forum Ulama Islam negara Arab Saudi.

Di Homeland Salafy sendiri sudah ada usaha dari Raja Abdullah untuk mereformasi kurikulum pendidikan Wahabi/Salafy yang dianggap terlalu ekstrim dan menanamkan kebencian kepada kelompok lain.


Salafy Centre Global dan Indonesia :

1. Komite Fatwa tinggi Saudi : Syeh Abdullah bin Baz, Al Utsaimin, dkk.
2. Yayasan Muntadha London : Salman Ibn Fahd Al-Audah, DR. Safar Al-Hiwali, DR. I’ed A-Qorni dkk
3. Yamani : Rabi’ Bin Hadi Al Madhkali, Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i.
4. Yordani : Salim BIn I’ed Al-Hilali dkk., Ali Halabi Al-Atsari
5. Kuwait : Abdurraman Abdul Khaliq (Yayasan Ihya’ Ats-Thuratsnya)
6. Mesir : Syarif Hazza.
7. Alumni LIPIA angkatan pertama
8. Murid-murid Syeh Rabi’ Bin Hadi Al Madhkali
9. Murid-murid Syeh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i.
10. Ust.Yusuf Ustman Baisa, Lc -dulu di Ma’had Ali Al Irsyad Tengaran dan d’ai resmi al-Lajna al-Khairiyah Al Musytarakah.
11. Ust. Syarif Fuad Hazza, da’i dari Mesir dan kaki tangan Jum’iyyah Islamiyah Kuwait. Ma’had al-Irsyad. Tengaran Salatiga.
12. Ust. Abu Nida’ Khomsaha Sofwan, Lc Mudir Yayasan At-Turats, Yogyakarta, bekerja sama dengan yayasan Ihya’tul Turats Kuwait dan al-Haramain Foundation.
13. Ust. Aunur Rafiq Ghufron ( Ma’had Al Furqan, Gresik)
14. Ust. Abu Haidar, dkk ( As Sunnah, Bandung)
15. Ust. Kholid Syamhudi ( Ma’had Imam Bukhari)
16. Ust Abu Husham Muhammad Nur Huda, Ust Abu Ali Noor Ahmad Setiawan, ST, MT, Aris Munandar, SS LBI Al Atsary Jogjakarta.
17. Ust. Ahmas Faiz Asifuddin ( Ma’had Imam Bukhari, Solo dan Pimpinan Umum Majalah as Sunnah)
18. Ust. Abu Qatadah, Yazid Zawwa, Abdul Hakim Abdat .(Turotsi, Al Haramain-Al Sofwah-DDII eks Masyumi)
19. Ust. Abu Nida, dll ( Islamic Center Bin Baz)
20. Ust. Abu Abbas, Abu Isa, Abu Mush’ab, Mujahid .(Mahad Jamilurahman Bantul)
21. Ust. Umar Budiargo, Lc, Khudlori, Lc, Aris Munandar, SS, Ridwan Hamidi, Lc ,PP Taruna Al Qur’an, alumni Madinah)
22. Ust. Muhammad Yusuf Harun, MA, dai Yayasan Al-Sofwa (Lenteng Agung Jakarta, pengelola situs : Aldakwah.org)
23. Ust. Abu Umar Abdillah pernah berseteru dgn Ust. Farid Ahmad Okbah dari PP Al Irsyad)
24. Ust. Jafar Umar Talib (Yayasan Al Ghuroba) dan Syaikh Abdullaah Al-Farsi.
25. Al Maidani, pengasuh PP Al Anshor Jogjakarta, Al Ustadz Abdul Mu’thi dan ustadz Qomar Su’aidi,Lc.
26. Salafy Yamani, Ponpes Dhiyaus Sunnah Cirebon, Ustadz Muhammad Umar As sewed
27. Ust. Abdurahman Wonosari (Murid Syaikh Muqbil bin Haadi, Dammaj, Yaman)
28. Ust. Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi
29. Lajnah Dakwah As Salafiyyah Jl. Parakan Asih No. 15, Bandung Jabar
30. Ma’had Ittiba’us Sunnah : Jl. Syuhada No. 02 Sampung – Sidorejo – Plaosan – Magetan – Jawa Timur.
31. Ust. Abu Yahya Riski tinggal di Klaten.
32. Ust. Abdullah Amin, ma’had Ighotsah Dammam, Kediri
33. Wahdah Islamiyah, Jl. H. Asnawi Jakarta Selatan.
34. Salafy Sururi, Masjid Hidyatusalihin poltangan pasarminggu.
35. Salafy Yamani, Masjid Fatahillah.
36. Ust. Luqman Ba’abduh, Ma’had As Salafy, Jl. Wolter Monginsidi V no 99, Kranjingan, Jember
37. Ust. Badrusalam, Lc Radio Rodja Bogor.
38. dan lain lain.



Mengutip dari buku “Ilusi Negara Islam” pada bab 2 halaman 97 menyebutkan : sebuah Yayasan yang berafiliasi ke Arab Saudi menawarkan kepada pemerintah RI dana sebesar US$ 500.000.000,- dengan kurs Rp. 11.000, setara dengan Rp. 5.500.000.000.000,- (Rp. 5,5 Trilyun) dengan syarat memberi ijin untuk melakukan kegiatan “infrastruktur pendidikan dan akhlak” (dalam tanda kutip) dan menempatkan orangnya di Badan Perencanaan dan Pengawasan Negara.

Senin, 29 Mei 2017

Lelaki Berambut Panjang

“Seorang lelaki berambut panjang mempunyai jiwa yang unik, karena dari memanjangkan rambutnya saja sudah ada nilai uniknya tersendiri” – Uwa
Entah benar atau tidak mengenai pernyataan diatas, namun yang jelas saya bukanlah seseorang yang mempunyai kemampuan unik. Saya juga memanjangkan rambut bukan karena ingin dipanggil unik, tapi hanya ingin menggapai hasrat yang belum tercapai sejak SMA…
Sejak saya SMA, sebenarnya banyak siswa laki-laki yang ingin memanjangkan rambut mereka, namun hal itu terbentur oleh aturan yang ada di sekolah. Saya sendiri secara pribadi masih mempertanyakan apa hubungannya kegiatan belajar mengajar dengan pelarangan siswa berambut panjang. Jika memang maksudnya rambut pendek adalah tolak ukur kerapihan di sekolah, sebenarnya berambut panjang juga termasuk rapih. Mudahnya, lihatlah siswi perempuan di sekolah, mereka tampak rapih walaupun berambut panjang. Memang apa salahnya jika siswa laki-laki berambut panjang ? Apa memang jika siswa laki-laki yang berambut panjang itu tidak rapih ? Apa karena mereka berjenis kelamin laki-laki ? Apa karena itu ?. Aturan sekolah tersebut seperti menyatakan bahwa perempuan kodratnya berambut panjang, sedangkan laki-laki berambut pendek. Lalu bagaimana dengan pernyataan ini ? : “kodratnya perempuan berada di dapur dan laki-laki bekerja”, namun seperti yang diketahui, perempuan saat ini sudah menegaskan emansipasi wanita agar tidak dipandang sebelah mata. Maka pernyataan itu harusnya berubah menjadi “kodratnya perempuan berada di dapur dan laki-laki bekerja, namun perempuan meminta emansipasi, sedangkan laki-laki tidak”. Lalu dimana keadilan laki-laki saat di sekolah ? Emansipasi laki-laki untuk berambut panjang yang menurut sekolah merupakan kodrat perempuan tidak didapatkan mereka saat di bangku SMA. Namun lupakanlah saja, saya saat itu hanyalah seorang siswa SMA yang masih diberi pendidikan atau istilahnya disuapi guru, sehingga aspirasi saya pun tak mungkin didengar.

Gondrongisme Mahasiswa

Menurut KBBI, gondrong bisa berarti luas, yaitu “panjang karena lama tidak dipangkas”. Maka dengan pengertian tersebut “rambut panjang” lebih cocok diganti menjadi “rambut gondrong”. Karena rambut yang dimaksud disini memang dibuat sengaja panjang dengan tidak dipangkas.
jadul
Black Brothers, band jadul berisi pemuda dengan gaya jadul dan rambut gondrongnya
Lewat sudah masa SMA, masuk ke dunia perkuliahan seolah memberi kebebasan kepada pribadi masing-masing untuk mencari gaya. Karena dunia perkuliahan memuat nilai kerapihan yang sederhana, yaitu “Asal Sopan”. Karena aturan tersebut terkesan lebih subjektif, maka calon-calon orang gondrong saat itu menangkap masudnya dengan “boleh gondrong asal berpenampilan sopan”. Akhirnya hal itu menjadi landasan mahasiswa dengan terciptanya istilah gondrongisme (biasa juga dibaca gondrong is me). Gondrongisme adalah suatu istilah yang menunjukan kebanggaan terhadap rambut gondrong yang dimiliki seseorang.
Berbeda dengan kuliah di jurusan seni yang ‘seolah’ mewajibkan mahasiswanya menjadi gondrongisme. ada saja terkadang kampus yang melarang mahasiswanya untuk gondrong dengan cara mendiskriminasikan fasilitas kampus kepada orang gondrong. Misalnya saja ada kampus yang memuat aturan “rambut gondrong dilarang masuk ke perpustakaan” atau “rambut gondrong dilarang masuk ke ruang prodi kampus”. Padahal kuliah sejatinya adalah sarana mendapatkan pendidikan bagi siapa saja. Apakah maksudnya orang gondrong tidak boleh pintar ?. Mahasiswa merupakan remaja yang sedang mencari jadi dirinya, apakah salah jika memang dia nyaman dengan jati diri gondrongnya ? Jika begini, nasib seorang gondrongisme yang mempunyai potensi akademis akan tenggelam hanya karena rambut gondrongnya. Jadi, alangkah baiknya kampus yang melakukan diskriminasi terhadap gondrongisme agar berhenti melakukan diskriminasi tersebut. Bagaimanapun orang berambut pendek bukan suatu jaminan bahwa dia akan lebih pintar dari orang berambut gondrong.

Suntikan Seni

“Acap kali saya melihat seorang pelukis. Pelukis itu berambut gondrong. Acap kali saya melihat musisi. Musisi itu berambut gondrong. Pelukis dan musisi adalah seniman, ah….seniman memang sudah sepantasnya berambut gondrong”
Secara singkat seniman adalah seseorang yang membuat suatu karya seni, didalam karya seninya itu ada pesan dari sang seniman. Sering kali pesan dari seorang seniman itu tidak hanya disampaikan melalui karyanya saja, tetapi melalui penampilannya yang ekspresif. Maka, tak heran penampilan mereka terkadang disebut nyeleneh. Berkaitan dengan rambut gondrong, seorang seniman berambut gondrong adalah hal yang biasa. Justru aneh rasanya jika melihat seorang seniman tidak berambut gondrong. Bagi mereka, rambut gondrong adalah suatu harga mati untuk mempertegas dirinya sebagai seorang seniman.
Hal itu pula yang membuat stereotipe bahwa rambut gondrong identik dengan seorang seniman. Dari pengalaman saya, jika berjumpa dengan teman lama atau seseorang yang sudah lama tak berjumpa, mereka akan bertanya seperti ini : “Kamu sekarang jadi seniman ?” atau “Kamu kuliah di jurusan seni ?”. Stereotipe itu bagi saya sendiri merupakan hal yang positif. Seperti mengisyaratkan bahwa orang yang berambut gondrong seharusnya bisa sedikit berkarya dalam bidang seni, karena rambut gondrong identik dengan seniman. Pikiran saya akhirnya membawa saya pada suatu pertanyaan : “Apakah kamu tidak malu punya rambut gondrong tapi kamu tidak bisa berkarya walau hanya coretan-coretan ?”. Bagi saya pribadi, stereotipe ini merupakan suntikan motivasi agar saya mencoba membuat karya seni.

Termasuk Kriminal

“Ada banyak orang yang beranggapan, mereka yang memelihara rambut gondrong sebagai tipikal manusia yang tak mau diatur, bebal, dan sering sekali disebut tidak mengenal sopan santun. Tidak mengherankan, dalam film-film borjuis para penjahat digambarkan dengan rambut gondrong, memakai kacamata hitam, dan bertatto.”
– Berdika
Dibalik suatu stereotipe yang positif, selalu ada saja hal negatif yang dilihatnya, begitupun dengan rambut gondrong. Seperti pada masa orde baru atau rezim Soeharto, rambut gondrong dianggap bertentangan dengan kepribadian nilai bangsa Indonesia. Sehingga orang yang berambut gondrong akan langsung dicap penjahat, preman, urakan dan dianggap acuh terhadap nilai bangsa Indonesia. Orang berambut gondrong  diberantas dengan cara razia-razia rambut gondrong oleh pemerintah saat itu, termasuk seniman yang berambut gondrong terkena dampaknya. Orang berambut gondrong dianggap seperti seorang kriminal sehingga mereka tidak diperkenankan mengurus SIM, KTP, atau surat bebas G 30 S dari pihak kepolisian, kecuali mereka mencukur rambutnya terlebih dahulu.
indonesia-raya-6-desember-1973_2
Memasuki abad 21 ini, masa orde baru memang sudah berakhir, namun stereotipe negatif tentang orang gondrong masih saja ada. Contohnya saja dalam lingkungan keluarga saya saat lebaran kemarin, mereka menyuruh saya untuk mencukur rambut gondrong saya karena menganggap saya mirip dengan penjahat atau orang gila. Sehingga mereka seolah merasa malu jika harus berkumpul keluarga dengan saya yang berambut gondrong ini. Bahkan ada satu komentar yang tak pernah saya lupakan saat lebaran itu, yaitu komentar dari nenek saya. Dengan bahasa sundanya nenek saya berkata kepada saya : “A, eta sirah…mun ayeuna jaman Soeharto, aa moal aya didieu da…” . Yang artinya “Rambutmu itu nak…kalau sekarang jaman Soeharto, kamu tidak akan ada disini…”. Nenek saya yang merasakan rezim Soeharto cukup lama tentu menjadi saksi hidup bagaimana nasib orang-orang berambut gondrong yang ditangkap. Rasanya menarik juga memikirkan komentar nenek saya tersebut, berpikir andai sekarang masih jaman Soeharto, rambut gondrong saya ini tentu ‘haram hukumnya’ dan kemungkinan besar saya akan ditangkap oleh pemerintah sehingga saat kemarin lebaran mungkin tak ada kata ‘lebaran bersama keluarga’ bagi saya. Mengingat kejadian di masa lalu itu, cukup wajar jika nenek saya tidak menyukai rambut gondrong saya.
Selebihnya di abad 21 ini, generalisasi orang Indonesia kepada orang berambut gondrong identik dengan kejahatan harus dihilangkan, agar kedepannya tidak ada lagi kalimat “orang itu jahat karena berambut gondrong !” maka “semua orang berambut gondrong pasti jahat !”.

Tradisi & Agama

Dalam tradisi Indonesia, rambut gondrong merupakan tradisi terdahulu nenek moyang kita. Hal itu diungkapkan oleh sejarawan Anthony Reid. Beliau mengatakan bahwa rambut gondrong sangat melekat dalam tradisi masyarakat Asia Tenggara, termasuk nusantara saat itu, sebagai perlambang atau simbol kekuatan dan kewibawaan seseorang.
Dalam pandangan agama, berdasarkan 6 agama yang diakui di Indonesia yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu. (sejauh yang saya pelajari) Tidak ada satupun dari agama tersebut yang melarang manusia untuk berambut panjang.
Berhubung saya seorang muslim, maka saya akan membahas dari sudut pandang Islam mengenai rambut gondrong ini. Simak hadits berikut ini :
عَنِ الْبَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ يَقُوْلُ مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِيْ لِمَّةٍ أَحْسَنَ مِنْهُ وَفِيْ رِوَايَةٍ كَانَ يَضْرِبُ شَعْرَهُ مَنْكِبَيْهِ
Dari Bara’ bin Azib, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.” Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (Hr. Muslim: 2337)
Berdasarkan hadits itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan rambut sampai bahu yang artinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang kita untuk memanjangkan rambut. Timbul pertanyaan mengenai perbuatan memanjangkan rambut ini apakah sunnah ? Jawabannya terdapat 2 pendapat ulama disini, ada yang mengatakan sunnah dan ada yang mengatakan bukan sunnah.

Akhir Gondrong

Jika mengamati sekitar, orang yang berambut gondrong ternyata populasinya bertambah banyak. Artinya orang-orang yang menggondrongkan rambut sudah merasa bahwa masyarakat bisa menerima kehadiran gondrongisme ini. Besar kemungkinan juga ‘gondrongisme’ ini terus bertambah mengingat pengaruh musik Rock dan gaya hippies yang kembali bangkit di kalangan anak muda. Ditambah dengan adanya remaja-remaja yang berkumpul dalam suatu ranah anti mainstream yang menolak mengikuti arus dan ingin tampil berbeda sendiri, salah satunya adalah dengan cara ‘gondrongisme’. Selain itu, rasa penasaran ingin berambut gondrong semasa sekolah akan membuat pemuda-pemuda berambisi melakukan ‘gondrongisme’ saat mereka meninggalkan bangku sekolah.
hippie-guy-500x333
Rambut gondrong seorang hippies
Berbicara rambut gondrong, saya teringat akan satu istilah bahasa gaul Makassar yang diucapkan teman saya yaitu Maju ko gondrong! kurang lebih artinya seperti memprovokasi orang atau mengajak adu jotos. Hal yang membuat saya penasaran adalah makna dari kata gondrong dalam istilah tersebut. Akhirnya setelah mencari-cari, ternyata maksud kata ‘gondrong’ dalam istilah tersebut adalah anggapan bahwa orang gondrong jaman dulu itu berani. Sehingga digunakan lah istilah maju ko gondrong! untuk memprovokasi seseorang. Menarik mengetahui orang gondrong ternyata dijadikan suatu istilah bahasa daerah.
Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa orang gondrong itu berani, saya setuju. Orang gondrong itu memang berani. Berani mengungkapkan suatu lambang, yaitu lambang semangat kebebasan dan kejujuran akan keadaannya. Rambut gondrong juga memuat nilai heterogen yang ada dalam masyarakat menjadi lebih berwarna. Persepsi atau stereotipe menurut saya merupakan hal yang biasa dalam hidup ini, sehingga pandangan terhadap ‘gondrongisme’ hanyalah bagian dari rangkaian kehidupan sebagai mahluk sosial yang biasa terjadi.
Rambutmu merupakan mahkotamu, tak ada yang bisa memaksamu
Akhirnya rambut gondrong pun akan tiba sampai dipangkas apabila merasa sudah tidak nyaman atau melebihi batas. Entah dengan dipangkas sedikit, sebagian atau malah dipangkas kembali menjadi pendek. Yang jelas rambut gondrong memang menunjukan kebebasan, tapi jika justru merasa terkekang dengan kebebasan ini, kenapa tidak mencari kebebasan lain ?. Kebebasan memang merupakan suatu hak, namun perlu diingat dalam kebebasan itu kita harus memperhatikan batasan (kewajaran). Jika melewati batasan itu, kita sendiri yang semakin berat menanggungnya. Begitupan kebebasan dalam bertingkah atau berperilaku yang harus memperhatikan batasan diri dan batasan yang dimiliki orang lain.

Referensi :

Sabtu, 08 April 2017

BANGKU SEBELAH

Berawal dari masalah sederhana, aku diharuskan pergi ke cafe untuk bertemu seorang teman disana. Tak lama setelah aku duduk, masuk wanita muda dengan tampang linglung sedang mencari alasan yang membuat dia datang ke tempat ini. Siang ini wajahnya berkeriput, seperti makhluk yang berusaha membebaskan diri dari kurungan. Dia berjalan dan kemudian duduk tepat disamping tempat yang aku duduki sekarang ini, dimana sejak kedatanganku sudah ada seorang pria muda duduk disana.
Dia menatap pria itu, wanita akan menatap wajah pria jika ada sesuatu di wajahnya atau jatuh cinta padanya. Wanita itu terlihat menghela napas panjang untuk bersiap mengatakan sesuatu yang mungkin tak ingin ia katakan.
Ia berkata “Apa lagi yang kau mau? Aku anggap masalah kita sudah selesai”
“Aku memang salah, aku akui itu” jawab pria itu
Semua percakapan mereka terdengar jelas, ini dikarenakan jarak antara mereka denganku tidaklah begitu jauh.
Wanita itu meninggikan suaranya dan berkata “Kita akhiri saja, aku lelah bertengkar dan tersakiti seperti ini”
Wanita itu terus mengucapkan kata-kata konyol yang tidak berarti apa-apa, tapi entah kenapa itu lebih baik daripada berdiam diri. Pada dasarnya wanita memang berbeda, mereka bisa melupakan pertengkaran-pertengkaran seperti itu dan merasa lega sesudahnya, karena telah meluapkan segala unek-unek mereka. Bagi mereka pertengkaran adalah semacam alat untuk menenangkan saraf.
Secepat mungkin pria itu mencoba menenangkan suasana, cinta memang bisa membuat laki-laki berubah menjadi setan atau malaikat dan itu membuat hati wanita tersebut menjadi reda.
Seorang pelayan setengah baya datang menghampiri mereka, ia tampak serius menjalankan tugasnya.
“Tolong beri kami waktu, sebentar saja” jelas pria itu kepada pelayan
Pelayan itu terlihat telah memahami situasi, ia berjalan kembali ke tempatnya semula, tak jauh dari tempatku berada. Aku hampir lupa kalau drama sudah dimulai tapi aku hanya akan berperan sebagai penonton, ditambah pelayan tua itu yang sedari tadi memandangi mereka.
“Kita bicarakan bak-baik, tenanglah, ini tempat umum” kata pria itu memelas
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Terlihat jelas wanita itu sedang berusaha menenangkan diri untuk tidak menangis didepan umum. Memang beginilah adanya, tidak ada yang lebih indah dan lebih sakit daripada sebuah hubungan.
Pria itu memegang tangan wanitanya dan berkata “Aku memang salah. Aku yakin, aku tidak salah memilih wanita, aku hanya salah dalam cara mencintaimu dan aku janji tidak akan menyakitimu lagi”
Sejenak aku mendengar sesuatu yang mustahil dalam ucapan pria itu. Ketika jatuh cinta, jangan berjanji untuk tidak saling menyakiti, namun berjanjilah untuk tetap bertahan meski salah satu tersakiti.
Tak terasa 20 menit sudah aku menunggu di cafe ini, dan teman yang aku tunggu belum juga datang. Situasi masih tetap sama, pasangan kekasih itu masih berdiam diri satu sama lain dan hujan diluar juga masih belum berhenti. Aku penasaran, apakah drama ini akan berakhir indah atau malah sebaliknya.
Wanita itu memanggil pelayan itu lagi dan memesan segelas air minum, untuk menenangkan diri sepertinya.
“Aku benar-benar menyesal, tolong percaya kepadaku” pinta pria itu
“Aku percaya, aku selalu percaya kepadamu, tapi kau yang tidak percaya kepadaku, kau tidak percaya bahwa selama ini hatiku selalu tersakiti oleh seseorang namun aku selalu bertahan, dan orang itu ada dihadapanku” jawab wanita itu, matanya tampak mengeluarkan air mata
“Aku benar-benar tulus mencintaimu, percayalah”
“Kalau kau tulus mencintaiku, seharusnya kita tidak perlu bertindak sampai sejauh ini” lanjut wanita itu
Pelayan itu datang tepat waktu, ia menaruh gelas itu dengan hati-hati dihadapan mereka. Sehabis itu, ia manaruh kopi hangat pesananku dan segera duduk dihadapanku. Pria tua itu menghela napas sambil memandangi mereka.
“Cinta orang dewasa berkata, aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu. Namun cinta yang dewasa berkata aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu. Kau setuju denganku?” tanya pelayan itu kepadaku
Aku tidak menjawabnya, aku hanya memandanginya seraya menyeduh kopi hangat yang ia hantarkan tadi.
“Diumurku yang sudah terbilang tua ini, aku masih belum bisa membedakan mana cinta yang tulus dan yang bukan” seru pelayan itu sambil memandangi mereka
“Kau hanya perlu bukti”
“Bukti?”
“Seseorang mencintaimu sama artinya dengan ia memanfaatkanmu, disaat itulah kau bisa melihat apakah ia mencintaimu dengan tulus atau tidak” jawabku padanya
Mendengar ucapanku, ia langsung menolehkan wajah keriputnya kepadaku. Sambil tersenyum ringan ia berkata “kalau begitu aku akan bekerja dulu, untuk mendapatkan bukti”
Pelayan itu segera beranjak pergi dan bertepatan dengan itu, wanita itu berdiri dari kursinya seolah baru mendapat pencerahan atas masalah yang sedang ia hadapi.
Dia berkata “Aku tidak lagi sekuat dulu, jatuh cinta padamu adalah hal yang mudah, namun untuk tetap bertahan mencintaimu perlu kerja keras. Sifatmu yang begini sejak dulu, aku cukup kuat menahan itu semua, tapi aku rasa tidak untuk sekarang. Kita akhiri saja”
Usai memutuskan hubungannya, wanita itu pergi berjalan keluar dari cafe sambil menangis, meninggalkan bekas prianya yang terlihat begitu terpukul atas kejadian itu. Pria itu telah membuat bekas wanitanya menangis dan membiarkan orang lain yang menghapusnya. Dan lebih ironis lagi saat pria itu sama sekali tidak mengejarnya.
Kebahagiaan adalah masalah keputusan dan mereka telah mengambil keputusan untuk berpisah, mencari jalan masing-masing untuk bahagia.
Pria itu masih disitu, duduk dengan tampang tidak berdaya seolah tidak percaya apa yang telah terjadi. Dia tidak akan pernah tau begitu berharganya seseorang sampai seseorang tersebut meninggalkannya seperti ini.
Sebagai penonton, aku hanya bisa diam memandangi drama yang berakhir tragis seperti ini. Jika wanita tersebut tidak menempatkan pria itu dimasa depannya, maka pria itu harus cukup pintar untuk menempatkan wanita tersebut dimasa lalunya.

Jumat, 07 April 2017

CERPEN

Kamu dan Lontong Terakhir Itu


"Setidaknya tunggulah sampai aku mendapat pekerjaan, aku pasti melamarmu. bukankah kita telah menjalani ini bertahun tahun, kita juga telah menempuh pasang surutnya hubungan ini selama tujuh tahun. Dan aku mampu memahamimu, begitupun kamu, kamu bahkan memahamiku lebih dari diriku".
Ucapku sore itu dua tahun yang lalu kepada seorang perempuan ketika berada di tepi sungai di lembah ngarai sianok.
"Selama hari berganti menemukan desember untuk kesekian kalinya, bahkan aku selalu setia melingkari tanggal-tanggal dikalender kamarku untuk sekedar tahu samapai kapan penantian ini akan berakhir. Jika benar kamu serius dengan apa yang kau katakan, ikutlah aku ke jakarta. kamu cari pekerjaan disana, atau rasa cintamu itu sudah hilang padaku awan?"
ujar wanita yang biasa kupanggil ed itu sambil menatap dalam bola mataku.

hari-hari berlalu setelah kami berbincang serius di kota bukit tinggi itu, sudah hampir sebulan aku dijakarta berusaha mencar pekerjaan, tetapi masih belum ada hasil, padahal aku menilai usahaku sudah maksimal, harus lebih sabar dan tetap semangat pikirku. 
Akhir-akhir ini semakin kurasa sikap ed berubah terhadapku, begitu sulit dihubungi, ditemui dan tak ada kabar sama sekali seperti ingin menghindar dari ku persis seperti yang sering ia lakukan dahulu. fikiranku mulai menerawang entah kemana dan tak jarang aku berandai-andai. apakah ia menghindariku karena aku belum mendapat pekerjaan atau dia sudah menemukan lelaki lain, atau orang tuanya mulai tak setuju denganku. mungkin aku yang sarjana pengangguran ini tidak pantas dengannya yang seorang lulusan magister. hayalan liar itu menjelajah rongga-rongga otakku tanpa kontrol. 
rasa penasaran itu juga yang membuatku mencari tahu dengan menyamar menjadi lelaki bernama anom di akun facebook, ide gila itu kudapat dari teman dekat ed, aku meng add akun facebook ed dan kami berteman, sering chatingan hingga larut malam, komunikasi kami cair dan saling bertukar nomor hp, aku sengaja membeli sim card baru untuk kugunakan sebagai nomor hp anom, tetpi aku hanya berani berbalas sms, pernah juga ide gila muncul mengajaknya bertemu di suatu tempat supaya bisa saling mengenal, tetapi aku membatalkan setelah dia menunggu ditempat yg telah dijanjikan, kalau aku datang penyamaranku akan terbongkar, dari sikap ed yg open dengan lelaki lain yang bahkan belum dikenalinya didunia nyata memang membuatku kecewa. tapi aku tidak bisa menyalahkannya karena siapapun wanita ingin lelaki yang telah jelas karirnya.
Sepandai-pandai menyimpan bangkai baunya akan tercium juga, pepatah lama itu benar adanya. dan pada akhirnya penyamaranku terbongkar juga.
tepat suatu pagi ed datang mengetuk kamar kosku, memang tempat tinggal ku dan tempat tinggalnya sangat dekat, hanya berjarak lima buah rumah.
"awan...awan..."
Suara yang sanagat ku kenali memanggilku dari balik pintu itu. akupun keluar kamar dan menghampirinya, kulihat seorang wanita sedang duduk dikursi depan kamar kosku.
"ini aku bawakan lontong gulai untuk sarapan"
ucapnya dengan senyum padaku. dengan wajah yang kusut aku duduk disampingnya, banyak hal dalam benakku yg ingin kutanyakan padanya tentang perubahan sikapnya akhir-akhir ini. kutatap wajah oval itu, dia tak sekedar pernah mengisi kekosongan pada jemari ini, dia yang telah membantuku memaksakan diri menyelesaikan tugas akhir kuliah, dia juga perempuanku yang telah berdiri tegap disampingku ketika mungkin semua orang bahkan tak ingin mendengar namaku, dia yang selalu bawel mengingatkanku meminum obat ketika aku hampir kehilangan nyawa karena kecelakaan, dia juga menjadi teman yang tak pernah menutup mukanya ketika berjalan disampingku dalam keramaian. cara bergaulnya menancapkan keindahannya semakin kuat dalam anganku.
"ada jadwal interviu hari ini?"
tanya ed sambil menuangkan lontong yang dibawanya ke dalam piring.
"tidak"
jawabku singkat dengan mata masih memandangnya.
"hilang kemana selama ini, tidak ada kabar, dihubungi gak ada respon?'
aku balik bertanya.
"sibuk"
jawabnya sesimpul senyum
"sesibuk itukah hingga tak bisa membalas satu sms, atau mengangkat sekali telepon ku, bahkan ketika aku tersesat dikota jahannam yang tidak kukenali ini"
ujarku dengan kesal.
"awan... mungkin kamu tidak cocok dijakarta, sudah sebulan lebih belum juga dapat pekerjaan, jangan paksakan dirimu disini, dan jika kamu dapat kerjapun belum tentu kita berjodoh,,, jadi pulanglah..."
Aku tak mengerti maksud dari kata-kata perempuan itu dan diapun tidak menjelaskan arti dari ucapannya. dulu dia yang kukuh memintaku kejakarta mencari kerja tapi sekarang dia yang menggoyahkan semangatku, seperti ada sesuatu yang dirahasiakan, apalagi dengan perubahan sikapnya itu.
"jika memang aku ingin pulang, lebih baik aku pulang dua minggu lalu ketika pamanku meninggal dunia, tapi aku tetap disini dengan tekadku, ini tidaklah semudah itu untukku dan tolong jangan buat aku menyerah kali ini" 
ucapku lirih
"terserah padamu... disini atau di sana, dapat kerja atau tidak kita belum tentu berjodoh"
ujar wanita itu lagi seperti sebuah penolakan akan keberadaanku di kota ini.
"sering terpikir olehku apakah hubungan kita ini hanyalah hubungan antara sebuah rasa kasihan dan sebuah rasa balas jasa? atau karena kamu seorang magister tak merasa pantas denganku? atau juga kau telah temukan lelaki yang cocok untukmu?"
tanyaku dengan nada agak tinggi. aku memalingkan pandanganku setelah mengucapkannya, akhirnya aku mengungkapkan apa yang ada dalam dadaku, pertanyaan itu telah mengendap sekian lama dalam nuraniku.
sungguh aku tak bermaksut menghinanya dengan pertanyaan seperti itu, yang pasti ada penyelesaian dari sebuah permulaan.
perempuan tangguh itu akhirnya menepis keheningan kami, dan kali ini dia tak menggunakan sinar tajam matanya, bahkan ia seperti berbincang dalam kekosongannya seolah menatap mataku, tetapi aku sadar betul, ia tak sedang menangkap pantulan bola mataku.
"aku tak pernah terpaksa, aku sungguh mencintaimu awan... bahkan dalam doaku, tapi sekarang ada yang mengganjal dalam hatiku yang tak bisa kujelaskan padamu. dan jikalau terlintas pertanyaan tersebut dibenakmu, maka bisa jadi penantian kita selama ini adalah suatu kesalahan. aku paham... kau merasa aku memadamkan harapmu pada yang lain dan menahanmu disisiku hanya untuk mengumpulkan kekuatan hingga waktunya untuk melepaskanmu."
aku merasakan amarahnya dan membiarkan kekuatannya meleleh didepanku. aku tak pernah beruntung menyaksikan air matanya. namun pagi itu ia mengalah pada ketegarannya.
"apakah ia selama ini aku hanya menahanmu disisiku karena aku mengasihanimu? atau karena aku mengasihani diriku sendiri?"
ujarnya lagi sambil terisak. bulir bening yang tadinya berkaca-kaca dimatanya kini berderai, semakin cepat dan semakin banyak.
"aku tak mampu mengobati sakitmu pagi ini kecuali dengan kata "MAAF", aku hanya memperjuangkan pondasi hubungan yang telah kita bangun, kamu tahu aku dari dulu tidak suka dengan sikapmu yang selalu menghilang tanpa sebab, menghindar saat kita ada masalah, dan masih banyak yang tidak aku sukai darimu, namun lihatlah aku bertahan hingga hari ini denganmu. tak ada orang lain, tak ada wanita lain"
ujarku sambil berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka karena mataku mulai berkaca-kaca.
Ketika aku dikamar mandi kudengar bunyi HP ku yang kuletakkan di meja dekat ed. dan ketika kulihat yang miscall itu adalah ed, panggilan tak terjawab pada sim dua yang nomornya ku pakai sebagai penyamaranku menjadi anom difacebook untuk SMS-an dengannya, selama ini dia tak pernah tahu kalau anom yang selalu menemaninya di chat fb itu adalah aku.
aaaahhh.... sial... bodohnya aku, umpatku dalam hati.
"jadi anom itu kamu wan? OK... kita selesai"
ucap ed dengan penuh kecewa. 
aku tak tahu harus menjawab dan berbuat apa, dan pagi ini aku paham bagaimana rasanya menjadi lelaki paling buruk. kekuatanku tiba-tiba jadi pengecut.
dan permpuan itu tetap tangguh di akhir cerita, dia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkanku. dengan membekap mulutnya sendiri menahan kekesalannya.
aku hanya diam terpaku melihatnya meninggalkan ku dengan SEPIRING LONTONG GULAI ITU, aku hanya pasrah pada waktu dan tak mampu menahan atau mengejarnya.
aku memberanikan diri merasakan masa lalu, dia satu-satunya pilihan yang aku harapkan dipilihkan takdir untuk masa depanku. aku mendoakan dalam waktu yang bergulir hingga menggulingkan tahun demi tahun. bahkan, aku menyesal terlalu lambat, terlalu panjang waktu yang aku habiskan untuk menatap matanya hingga aku mengenal mata itu dengan sangat pekat. Juga terlalu dalam warna suaranya menghiasi pendengaranku, hingga aku dapat membedakannya bahkan jika itu ditengah suara hujan,  seperti itulah keberadaannya yang aku jaga dalam satu rasa harap yang dalam ratusan fajar tak kian berganti nama, tetap dia. seorang perempuan yang sangat ingin aku dekap dalam penjagaanku.
sambil menyendok lontong yang terasa hambar sehambar hatiku pagi ini aku bergumam, mungkin ini lontong terakhir darinya.
kemudian tahun berganti dengan berbeda, aku tak pernah tahu kabar perempuanku itu, beberapa kali ku hubungi nomor telponnya tetapi tak pernah sekalipun di angkat.
dan aku? melangkah sejauh yang aku mampu.


(April 08-2017)